Our storyKisah kami

Fafa Sukses Makmur grew from a home kitchen in Berau, East Kalimantan, through patience, steady learning and a commitment to doing things properly.Fafa Sukses Makmur tumbuh dari dapur rumah di Berau, Kalimantan Timur, melalui kesabaran, kemauan belajar yang konsisten, dan komitmen untuk bekerja dengan benar.

Top of the Kaltim Post newspaper page featuring Anjar Susianah and Fafa Sukses Makmur
Kaltim Post, 13 April 2025.Kaltim Post, 13 April 2025. Select this page to read the full article.Pilih halaman ini untuk membaca artikel lengkap.
SinceSejak
2009from a home kitchen in Beraudari dapur rumah di Berau
ProductsProduk
20+kinds of products made so farmacam produk yang pernah dibuat
Production capacityKapasitas produksi
5,000 pcs5.000 pcsper month per product, and it can be increasedper bulan per produk, dan dapat ditingkatkan
CertificationsSertifikasi
3 certificates3 sertifikatPIRT, Halal Indonesia, TKDN
  1. 20092009

    A difficult yearTahun yang sulit

    When the company where her husband worked began to struggle in 2009, Anjar Susianah's family felt it at once. They lived in company housing in Mangkajang, their children were still small, and money had become tight. Out of that pressure, Anjar began making peanut peyek, because something had to be done to cover the daily needs.Ketika perusahaan tempat suaminya bekerja mulai goyah pada tahun 2009, keluarga Anjar Susianah langsung merasakannya. Mereka tinggal di perumahan perusahaan di Mangkajang, anak-anak masih kecil, dan uang menjadi sangat terbatas. Dari tekanan itulah Anjar mulai membuat peyek kacang, karena harus ada yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Mangkajang was too small a market for her to rely on, so she looked beyond it. Her first stock was twenty packs of peyek, which her husband carried by motorbike in a backpack on an hour-and-a-half trip to the city. It was a modest start, but it was enough to leave them at a small stall in Tanjung Redeb.Mangkajang terlalu kecil untuk dijadikan satu-satunya pasar, sehingga ia mencari ke tempat yang lebih jauh. Modal pertamanya adalah dua puluh bungkus peyek, yang dibawa suaminya dengan motor dan ransel dalam perjalanan satu setengah jam menuju kota. Awalnya sederhana, tetapi cukup untuk dititipkan di sebuah warung kecil di Tanjung Redeb.

    She began with only Rp 1 million, and she chose the name Fafa from one of her children's nicknames, so that the brand would feel familiar from the start. She admits she was unsure, yet she loved cooking, the capital was small, and she believed she could do it. That belief carried her further than certainty would have.Ia memulai hanya dengan modal Rp 1 juta, dan memilih nama Fafa dari panggilan salah satu anaknya agar merek itu terasa akrab sejak awal. Ia mengaku ragu, tetapi ia gemar memasak, modalnya kecil, dan ia yakin bisa menjalaninya. Keyakinan itu membawanya lebih jauh daripada kepastian.

  2. The early yearsTahun-tahun awal

    From tilapia to abonDari ikan nila menjadi abon

    The turn came by chance, when a neighbour gave her some tilapia. She remembered how her mother made serondeng and tried the same idea on the fish, and the abon that came out satisfied her. That success made her curious, so she tried tilapia, scad, mackerel and tuna in turn, and learned that sea fish such as tuna suit abon best, since they give more fibre and meat and are easier to process.Perubahan datang secara kebetulan, ketika seorang tetangga memberinya ikan nila. Ia teringat cara ibunya membuat serondeng dan mencoba gagasan yang sama pada ikan itu, dan abon yang jadi memuaskannya. Keberhasilan itu membuatnya penasaran, sehingga ia mencoba nila, layang, kembung, dan tuna satu per satu, lalu mendapati bahwa ikan laut seperti tuna paling cocok untuk abon karena seratnya dan dagingnya lebih banyak serta lebih mudah diolah.

    Learning the craft was only part of what she needed. A training run by the Berau trade and industry office taught her simple bookkeeping and why legality matters, so from the beginning she arranged PIRT registration and halal certification, which few small producers in Berau had done then.Menguasai pembuatannya hanyalah sebagian dari yang ia butuhkan. Pelatihan dari dinas perindustrian dan perdagangan Berau mengajarinya pembukuan sederhana dan pentingnya legalitas, sehingga sejak awal ia mengurus pendaftaran PIRT dan sertifikasi halal, yang saat itu masih jarang dilakukan pelaku usaha kecil di Berau.

    None of this came easily. In the early batches the abon often burnt or turned out dense, and she says it took years to understand the process. That patience is why Kaltim Post now describes her as a pioneer of fish-based abon in Berau.Semua itu tidak datang dengan mudah. Pada percobaan-percobaan awal, abonnya sering gosong atau terlalu padat, dan ia mengatakan butuh bertahun-tahun untuk memahami prosesnya. Kesabaran itulah yang membuat Kaltim Post kini menyebutnya perintis abon berbahan ikan di Berau.

  3. 20132013

    Moving to Tanjung RedebPindah ke Tanjung Redeb

    In 2013 the family moved to Tanjung Redeb, because a wider market needed her to be closer to it. Living in the city let her check stock in the shops herself and extend the distribution network. Her husband now has a new job, yet he still helps with production and marketing, and his ideas and handiwork are behind the neat packaging.Pada tahun 2013 keluarga pindah ke Tanjung Redeb, karena pasar yang lebih luas menuntutnya berada lebih dekat dengannya. Tinggal di kota memudahkannya memeriksa stok di toko-toko sendiri dan memperluas jaringan distribusi. Suaminya kini memiliki pekerjaan baru, tetapi ia tetap membantu produksi dan pemasaran, dan gagasan serta kerja tangannya ada di balik kemasan yang rapi.

  4. The growth yearsTahun-tahun berkembang

    A wider rangeProduk yang makin beragam

    As sales grew, her ambitions grew with them. She added crab sticks, squid sticks, ilat sapi snacks and skipjack sambal, and at one point she was making at least twenty kinds of products. Some did not last because few people wanted them, and that taught her that abon remains what customers ask for most. Three employees now help her with production.Seiring penjualan yang naik, keinginannya untuk berkembang ikut tumbuh. Ia menambahkan stik kepiting, stik cumi, camilan ilat sapi, dan sambal cakalang, dan pada satu masa ia membuat setidaknya dua puluh macam produk. Sebagian tidak bertahan karena sedikit peminatnya, dan dari situ ia belajar bahwa abon tetap yang paling dicari pelanggan. Kini tiga orang karyawan membantunya berproduksi.

    The workload runs on a rotation of abon one day, sambal the next, and cakes the day after, which keeps every product made with care. She also keeps prices affordable, starting from Rp 12,000, and tuna abon and tuna sambal are the best sellers.Pekerjaan berjalan bergantian, abon di satu hari, sambal di hari berikutnya, dan kue di hari ketiga, sehingga setiap produk dibuat dengan cermat. Ia juga menjaga harga tetap terjangkau, mulai dari Rp 12 ribu, dan abon tuna serta sambal tuna menjadi produk terlaris.

  5. MilestonesTonggak sejarah

    Recognition along the wayPengakuan sepanjang perjalanan

    Over time, others began to notice what the family had built. Fafa products have been shown at national events in Berau, including an exhibition on Maratua Island during a visit by former trade minister Enggartiasto Lukita and former tourism and creative economy minister Sandiaga Uno. The Berau regent, local trade and industry officials and the wife of a former vice governor of East Kalimantan have also visited the kitchen.Lama-kelamaan, orang lain mulai memperhatikan apa yang telah dibangun keluarga ini. Produk Fafa pernah ditampilkan di acara nasional di Berau, termasuk pameran di Pulau Maratua saat kunjungan mantan menteri perdagangan Enggartiasto Lukita dan mantan menteri pariwisata dan ekonomi kreatif Sandiaga Uno. Bupati Berau, pejabat dinas perdagangan dan perindustrian setempat, serta istri mantan wakil gubernur Kalimantan Timur juga pernah mengunjungi dapur produksinya.

    In 2023 Fafa was runner-up in the GO Modern class of the Pertamina UMK Academy, with a prize of Rp 20 million. Anjar continues to receive equipment assistance and training from the government, which she treats as a reason to keep improving.Pada tahun 2023 Fafa meraih juara kedua kelas GO Modern dalam Pertamina UMK Academy, dengan hadiah Rp 20 juta. Anjar terus menerima bantuan peralatan dan pelatihan dari pemerintah, yang ia anggap sebagai alasan untuk terus memperbaiki diri.

  6. The familyKeluarga

    What the business made possibleYang diwujudkan oleh usaha ini

    What began as a way to cover daily needs became the family's main support, and its income has let Anjar send all four of her children to higher levels of education. She finished school at senior high level herself, so she says success depends on hard work, enthusiasm and a willingness to keep learning, not on a degree.Usaha yang dimulai untuk menutupi kebutuhan sehari-hari itu kini menjadi penopang utama keluarga, dan penghasilannya memungkinkan Anjar menyekolahkan keempat anaknya hingga jenjang yang lebih tinggi. Ia sendiri menamatkan sekolah sampai tingkat menengah atas, sehingga ia berpendapat bahwa keberhasilan bergantung pada kerja keras, semangat, dan kemauan untuk terus belajar, bukan pada gelar.

    Looking back, her advice is not to be embarrassed about selling, because the results can exceed what you expect. What matters, she says, is to be patient and sincere, keep quality consistent, and protect customers' trust. Marketing was her biggest challenge, and the training and the chance to join expos and bazaars through the Berau trade and industry office helped Fafa become known more widely.Menengok ke belakang, nasihatnya adalah jangan malu berjualan, karena hasilnya bisa melebihi dugaan. Yang terpenting, katanya, adalah sabar dan tulus, menjaga mutu produk tetap konsisten, dan memelihara kepercayaan pelanggan. Pemasaran adalah tantangan terbesarnya, dan pelatihan serta kesempatan mengikuti pameran dan bazar melalui dinas perindustrian dan perdagangan Berau membantu Fafa dikenal lebih luas.

  7. TodayKini

    Still trying new thingsTerus mencoba hal baru

    Even now, Anjar has not stopped experimenting. She is testing banana chips made from moli and ambon bananas, and a seaweed agar-agar candy that is still being trialled to get the best texture.Hingga kini, Anjar belum berhenti bereksperimen. Ia sedang menguji keripik pisang dari pisang moli dan pisang ambon, serta permen agar-agar rumput laut yang masih dicoba untuk mendapatkan tekstur terbaik.

This story draws on interviews with Anjar Susianah in Kaltim Post on 13 April 2025, written by Nasya Rahaya, and in Berau Terkini on 4 December 2024, written by Dini Diva Aprilia.Kisah ini bersumber dari wawancara dengan Anjar Susianah di Kaltim Post pada 13 April 2025, yang ditulis oleh Nasya Rahaya, dan di Berau Terkini pada 4 Desember 2024, yang ditulis oleh Dini Diva Aprilia. Read the Berau Terkini articleBaca artikel Berau Terkini

Taste the resultCicipi hasilnya

Every pack of Fafa abon and sambal carries this story. Choose a product and order it on WhatsApp.Setiap kemasan abon dan sambal Fafa membawa kisah ini. Pilih produknya dan pesan lewat WhatsApp.

See the productsLihat produk